Setiyo Mursid

Untuk Perempuanku

Aku menulis malam ini di antara guling dan adikku yang lagi senyum-senyum ngobrol dengan lawan bicaranya di seberang sana. Hasrat menulis tetiba muncul di saat aku sudah siap untuk tidur. Kamu? kamu sudah tidur lebih awal meninggalkan obrolan kita tentang duren.

Jatuh cintalah tanpa merasa berkorban, tetapi merasalah seperti sedang memperjuangkan“. Begitulah kata seorang cowok ABG pada FTV malam ini yang samar-samar aku dengar dari televisi. Bolehlah untuk sekadar menyetujui pernyataan tersebut.

Sore tadi senja terlihat sangat cantik, meski diiringi tetesan hujan yang menyerbu kian menderu. Sinarnya yang menerobos gumpalan awan tebal begitu menghangatkan. Teringat akan seberkas senyum manis yang terkembang setiap kali kita bertemu muka. Sama, iya sama-sama mampu menerobos gundah dengan terus memacu keyakinan, sekaligus menghangatkan.

Kamu malam ini sudah terlelap, menggeluti mimpi dalam senyap. Namun rindu yang kamu ungkap seharian tadi begitu mendekap. Jenis kerinduan apalagi yang akan kita gapai selanjutnya, sayang? sepertinya sudah pada tingkat yang paling meluap.

Sebentar, aku mau duduk dulu..

Teh hangat terseduh lagi malam ini. Di antara batas rindu dan jarak yang sedang tak dekat, aku dan kamu tetap saling merekat. Apa yang terjadi dengan perasaan ini? Ketika setiap tetes rindu yang menggenang kian membenamkan kita, tenggelam, tak tertolong, dan sebaiknya jangan ada yang menolong sampai kita benar-benar tenggelam dalam rindu yang abadi.

Muda masih bisa jadi jompo, perkasa bisa jadi reto. Tapi cinta tidak. Bila ia masih menua, jelas bukan.
— Nanang Hape, dalang kontemporer.

Selamat tidur, sayang 🙂

Sukoharjo, menuju tengah malam.

Categories: Katresnan

Pengalaman Berbelanja di BukaLapak.com » « Saoto Bathok, Kuliner Pagi dari Sambisari

1 Comment

Leave a Reply

Copyright © 2017 Setiyo Mursid

Theme by Anders NorenUp ↑

Untuk Perempuanku

by Setiyo Mursid time to read: 1 min
1