Mengejar Sunrise ke Gunung Bromo

pemandangan cantik Gunung Bromo yang dilihat dari bukit Penanjakan.

pemandangan cantik Gunung Bromo yang dilihat dari bukit Penanjakan.

Halo! aku jalan-jalan lagi nih! Kali ini dalam rangka libur long weekend hari raya Paskah, saya masih bersama teman sekantor melepas penat (lagi dan lagi) ke ujung timur Pulau Jawa, tepatnya kami melakukan trip berkeliling Kota Malang dan menikmati matahari terbit di Gunung Bromo.

Perjalanan dimulai pada kamis malam (28/3). Berangkat dari Jogja pukul 20.00 menggunakan sebuah mobil, kami memantapkan niat untuk mengejar sunrise ke sebuah tempat yang sudah kondang kaloka seantero dunia akan kecantikan matahari terbitnya. Satu jam perjalanan awal, ย kami sempatkan mampir di Kota Solo untuk menikmati makan malam dengan kuliner khasnya yakni Timlo Maestro. Selesai bersantap, perjalanan yang lumayan panjang dan lama pun dilanjutkan. Kurang lebih 9 jam kemudian kami tiba di Kota Malang. Hari jumat adalah jadwalnya berkeliling Kota Malang yang (mungkin) akan saya tuliskan terpisah pada tulisan selanjutnya.

View dari Bukit Penanjakan, nampak lautan pasir yang masih berkabut.

View dari Bukit Penanjakan, nampak lautan pasir yang masih berkabut.

Kalo nggak ada foto saya nanti dikira hoax, dong! :D

Kalo nggak ada foto saya nanti dikira hoax, dong! ๐Ÿ˜€

Jumat malam, sekitar pukul 22.30 perjalanan naik menuju Gunung Bromo dimulai. Sekadar informasi saja, Gunung Bromo adalah wisata andalan di Jawa Timur yang berlokasi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Mempunyai ketinggian sekitar 2.300-an meter, gunung tersebut dikelilingi oleh lautan pasir yang terhampar seluas 10 kilometer. Nama gunung Bromo, menurut seseorang penduduk yang saya jumpai, diambil dari nama Brahma, dewa Hindu dan berasal dari bahasa Sansekerta.

Kami sampai di pos masuk kawasan wisata Bromo pukul 01.00. Karena jam 04.00 sudah akan mulai naik untuk menikmati sunrise, kami memutuskan untuk tidak menyewa penginapan saja. Nanggung banget, jadi kami cukup tiduran di mobil untuk sekadar menunggu. Untuk informasi saja, harga penginapan di situ bervariasi, harga minimal yang ditawarkan 400 ribu rupiah per rumah atau bahkan per kamar.

Ribuan pengunjung yang menaiki tangga untuk melihat kawah Gunung Bromo.

Ribuan pengunjung yang menaiki tangga untuk melihat kawah Gunung Bromo.

Tepat pukul 04.10, kami menyewa sebuah mobil jeep untuk naik Bukit Penanjakan seharga 400 ribu rupiah untuk 6 orang. Karena mobil pribadi sudah tidak boleh naik lagi dan harus diparkir di pos masuk. Udara Gunung Bromo saat itu tidak begitu dingin, kata temanku memang yang paling dingin adalah ketika musim kemarau.

Matahari mulai mengintip ketika kulihat langit sudah nampak memerah cerah. Kerumunan orang yang menunggunya pun nampak sumringah, mereka kemudian sibuk mengabadikan moment-moment berharga tersebut dengan berbagai jenis kamera yang dibawanya. Jujur, memang saya begitu takjub dengan pemandangan itu, sungguh cantik! Sebanding dengan perjuangan yang lumayan melelahkan untuk bisa menikmatinya.

Salah satu bagian Pura Hindu yang berada di kawasan Gunung Bromo.

Salah satu bagian Pura Hindu yang berada di kawasan Gunung Bromo.

Setelah menikmati sunrise, kami dibawa menggunakan jeep ke melewati lembah pasir yang terhampar luas menuju kawah Gunung Bromo. Namun, kali ini saya memilih untuk tidak naik ke kawah, selain siang itu udaranya cukup panas, kaki saya juga sudah lumayan lelah saat naik ke Bukit Penanjakan untuk melihat sunrise. Saya dan teman menikmati jalan-jalan di sekitar hamparan pasir dan masuk ke pura Hindu yang berada di tepi Gunung Bromo.