Berburu Keindahan ke Waduk Cengklik

cengklik

— Senja dan seorang pencari ikan sedang berada di atas perahunya.

Sore itu, kugerakkan motorku untuk berburu keindahan. Setelah sekitar lima belas menit kupacu motorku menembus keramaian kota Solo, aku pun menghentikan motor di depan gerbang sebuah rumah kost. Ya, aku sedang menunggu temanku yang kuajak untuk memburu keindahan tersebut. Tak begitu lama keluarlah perempuan manis yang sangat kukenal langsung menyapaku dengan ramah. “Siap berangkat?”, tanyaku yang kemudian ia balas dengan anggukan tegas.

Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 16.45 ketika perjalananku telah sampai di pinggir sebuah waduk buatan Belanda tahun 1926, Waduk Cengklik orang biasa menyebutnya. Waduk ini hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer di sebelah barat Bandar Udara Adi Sumarmo, Solo. Tiap sore, banyak orang dalam segala usia dan pasangan remaja yang memburu keindahan di waduk ini. Karena memang di sini lah tempat terbaik di sekitar Kota Solo untuk berburu keindahan. Keindahan yang aku maksud adalah ketika kita bisa melihat dengan takjub proses bergantinya siang dan malam yang menggoreskan keindahan di setiap detiknya. Ya, aku sedang berburu senja atau sunset.

Kupinggirkan motorku di depan sebuah warung sederhana di pinggir waduk. Aku terlebih dahulu ingin menikmati makan Pecel Belut goreng bersama temanku.

“Bu, Pecel Belut gorengnya dua, es teh manis dan teh anget ya!”, kataku kepada penjual pecel yang kulihat sedang menata dagangannya.

Aku ajak temanku makan dan menikmati senja ini itung-itung sekalian mengenalkan apa saja yang ada di Kota Solo dan sekitarnya, sebab ia adalah seorang perantau dari Ambarawa. Oh iya, aku pertama kali dikenalkan dengan Pecel Belut Goreng di sini oleh seorang budayawan yang kemudian mengajakku ke tempat ini, Blontank Poer namanya.

Kami berdua memilih duduk di teras menghadap ke waduk. “Belut gorengnya gurih ya, Sid.” kata temanku. Aku hanya tersenyum, sekilas kupandang dia yang sedang menikmati makan dengan sesekali melemparkan pandangannya ke waduk. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.15. Setelah membayar dua porsi Pecel Belut goreng dan minumannya yang hanya Rp. 17.000, aku mulai bergerak menuju salah satu spot di waduk ini untuk menikmati senja, berduaan tentunya. Hehe..

cengklik

— Salah satu spot di waduk Cengklik untuk menikmati senja.

Sinar surya pun mulai meredup perlahan, dan saat seperti inilah aku duduk berdua menikmati ciptaan Tuhan yang menakjubkan. Sebenarnya kalau boleh rikuwes, aku mau ada backsound lagu yang romantis. Sepuluh menit menikmati senja aku dan temanku hanya terdiam menikmati dengan sesekali saling pandang dan tersenyum, tanda bahwa ia memang suka suasana seperti itu.

“Satu tahun aku merantau di Solo, baru kali ini bisa menikmati senja yang keren! Kadang aku menginginkan bahwa Solo dekat dengan pantai untuk menikmati suasana seperti ini.”, katanya yang (mungkin) sedang menggambarkan secuil kebahagiaan.

Lalu matahari pun sudah benar-benar menghilang dan langit sudah mulai gelap. Aku dan temanku bergegas pulang. Kuantar dia sampai di depan gerbang kost. Sebelum dia masuk, aku menangkap senyum dan kedipan mata yang menentramkan.

Sunset mana lagi yang akan kunikmati bersama dia? Tunggu saja.