Setiyo Mursid

seluangnya dan seingatnya, update tergantung mood.

Menu Close

Saoto Bathok, Kuliner Pagi dari Sambisari

Suatu pagi di wilayah Kalasan, tepatnya di belakang Candi Sambisari. Pemandangan tak biasa saya jumpai pagi itu. Kerumunan orang-orang yang mengantri sesuatu pada sebuah tempat yang mayoritas terbuat dari bambu, menggerakkan rasa penasaran untuk mengetahui.

Melewati tepat di depan tempat itu, terjawab apa yang menjadi pusat perhatian orang-orang tersebut, Saoto Bathok Mbah Katro. Begitu tulisan yang saya baca pada papan nama yang terpajang. Saoto adalah istilah yang lazim untuk menyebut soto di kota Solo. Saoto itu ya soto. Ada pula kawan blogger yang pernah membuat plesetan slogan kenamaan dari kota Bengawan “Solo, The Spirit of Java” menjadi “Soto, The Spirit of Sala“. Plesetan tersebut bukan tanpa dasar, mengingat beberapa kuliner soto di Solo memang cukup terkenal diantaranya Soto Gading, Soto Triwindu, Soto Seger Mbok Giyem, dll. Untuk diketahui bahwa Sala adalah nama asli, Surakarta sebagai nama resmi pemerintahan, sedangkan Solo merupakan sebutan populernya.

Saoto Bathok

— Saoto Bathok makin mantap dengan tempe goreng, sambal dan es teh

Kembali ke Saoto Bathok, saya pun men-jajal-nya. Sesuai dengan istilah dan namanya Saoto Bathok ini merupakan model penyajian soto khas Solo yang mempunyai komposisi daging sapi (ada juga yang ayam) dengan taburan tauge (kecambah) dan daun seledri. Bedanya dengan soto yang rata-rata saya jumpai di Jogja, soto Solo biasanya tidak memakai kubis.

Saoto Bathok tergolong cukup unik dan baru karena memang memakai bathok (jawa: tempurung kelapa) sebagai alas makan. Tempatnya pun cukup menarik, berada di kawasan terbuka yang berbatasan langsung dengan persawahan dan ladang tanaman palawija, Saoto Bathok bisa dinikmati sembari melihat petani yang sedang membajak sawah sambil menikmati soto secara lesehan di dalam gazebo atau di kursi duduk.

Saoto Bathok ini bisa kita nikmati dengan seporsi (isi 5) tempe goreng garit, peresan jeruk nipis dan sambal yang lumayan enak dan pedas. Bagaimana jika dibarengi dengan obrolan hangat pagi hari tentang suatu hal di masa depan atau nostalgia tentang masa lalu? itu juga masyuk!

Nilai tambah yang makin membuat Saoto Bathok ini laris manis adalah harganya yang sangat murah. Hanya Rp.5.000,- untuk seporsi soto daging sapi. Seporsi tempe yang berisi lima buah juga hanya Rp.2.500. Ketika saya bertandang ke situ untuk kedua kalinya, makan berdua dengan teman dekat (bisa juga disebut pacar —red), dua porsi soto ditambah seporsi tempe dan dua gelas es teh, total kerusakan yang wajib saya bayarkan hanya Rp.15.500,-. Memang jika dibandingkan dengan kuliner soto di sekitarnya seperti Soto Pak Sholeh cukup kontras dari segi harga yang seporsi dipatok Rp.14.000,-.

— Menikmati soto segar di tepi persawahan luas, nikmat, gaes!

— Menikmati soto segar di tepi persawahan luas, nikmat, gaes!

Sebagai penggemar soto, menemukan tempat baru seperti ini adalah kebahagiaan. Alternatif untuk melakukan ibadah #RaboSoto pun jadi lebih beragam, meskipun seringnya sendirian. Ya, di Jogja memang ada teman-teman onliner pencinta soto yang selalu mengadakan acara makan soto bareng-bareng tiap rabu pagi yang biasa disebut #RaboSoto. Namun karena waktunya masuk pada jam kerja, sayapun belum sempat untuk ikut srawung.

Akhirnya, sebagai penggemar soto yang istiqomah, meskipun banyak sekali pilihan dan jenis soto yang ada di Indonesia. Semua adalah satu kesatuan kuliner soto warisan budaya dapur yang mengagumkan, yang mana masing-masing memiliki sisi yang dapat ditonjolkan tanpa harus saling sikut. Jika saya kutipkan beberapa twit dari Sujiwo Tejo, banyaknya pilihan soto adalah simbol persatuan dan keberagaman Indonesia.

“Sumpah Soto Indonesia: Kami Soto Madura, Soto Ambengan, Soto Padang, Betawi dll sampai Soto Makassar, berbahasa satu: Soto Indonesia!!!

Teladanilah persatuan soto Indonesia: Penggemar Soto Betawi, tak menghina Soto Banjar. Penggemar soto Padang,tak meledek Soto Tegal.

Penganut Soto Madura tak membikin Front Pembela Soto Madura utk hadapi Soto Kudus dll#TirulahPersatuanSotoIndonesia

Tak ada pernikahan yg batal gara2 perbedaan aliran soto masing2 mempelai #TirulahPersatuanSotoIndonesia

Tak ada juga anggota keluarga yg dikucilkan gara2 convert dari suka Soto Pekalongan ke Soto Bandung #TirulahPersatuanSotoIndonesia”

Sujiwo Tejo, 2013

 

 

© 2017 Setiyo Mursid. All rights reserved.

Theme by Anders Norén.

Saoto Bathok, Kuliner Pagi dari Sambisari

by Setiyo Mursid time to read: 2 min
1