Pengalaman Mendampingi Persalinan Istri

Baru sempat untuk menceritakan rasanya mendampingi istri melahirkan, bagaimana rasanya? marilah!

Cerita ini saya mulai pada Jumat tengah malam 11 Februari, kontraksi sudah semakin terasa meski jeda waktunya masih lama, kami yakin bahwa waktunya segera tiba. Bahkan bloody show atau flek darah sudah nampak pada rabu sebelumnya.

Hari sabtu sebenarnya saya sudah mulai agak cemas melihat istri kontraksi, lha wong sejak jumat malam sudah gak bisa tidur, tapi istriku belum mau kuajak ke klinik karena jeda waktu kontraksinya masih lama.

Akhirnya minggu pagi setelah semalaman istri sudah mulai tidak nyaman dengan kontraksi yang melilit, saya mengajaknya bergegas berangkat ke Puri Adisty di Kotagede, Jogja. Membawa dua tas yang berisi perlengkapan persalinan yang sudah kami siapkan jauh-jauh hari. Kenapa memilih persalinan di sini? akan saya jelaskan lain waktu. Pukul 09.00 istri saya dicek dengan VT (Vagina Toucher). Bidannya bilang belum ada pembukaan, kami dipersilahkan untuk pulang dulu dan beraktivitas sambil menunggu pembukaan. Tas bawaan kami disarankan untuk ditinggal saja jika sewaktu-waktu merasa sudah kontraksi yang intensif bisa langsung berangkat.

Yasudah, siangnya saya bergegas ke apotik membeli alas untuk persalinan dan mlipir ke pasar membeli kendhil untuk wadah ari-ari anak kami nantinya dan juga mampir ke minimarket membeli sari kacang hijau, pocari sweat, aqua dan sari roti sebagai pendamping tenaga saat proses melahirkan. Kami memutuskan membeli alas persalinan dan kendhil sendiri meski sebenarnya di sana juga disediakan, namun harganya jauh lebih mahal. Istri saya lebih tahu tentang harga-harganya ya beli sendiri aja, hemat hampir 70%. FYI, karena alas persalinan tidak dicover BPJS.

Minggu malam semakin melilit, istri sudah mulai merasakan kontraksi yang membuatnya kesakitan. Kami pun tidak bisa tidur sampai pagi.

Akhirnya hari senin pukul 09.30 setelah sarapan, kami menuju ke Puri Adisty. Dicek VT oleh bidan dan bilang bahwa pukul 10:30 sudah pembukaan 1. Pukul 12.00 bapak ibu dari Solo sudah bergabung menemani kami. Setelah observasi empat jam, pada pukul 15.00 dicek lagi sudah pembukaan 2 dan kami diminta untuk tinggal alias menginap. Sejak senin siang istriku sudah merasakan kontraksi terus menerus.

Tegang gak sih rasanya mendampingi sampai di sini? tegang lah bro, tapi ini belum seberapa, masih ada ketegangan lain yang menanti. Simak terus!

Senin malam pukul 19.00 pembukaan 3, kemudian pada selasa pukul 01.00 dini hari istriku sudah pecah ketuban dan dinyatakan pembukaan 4. Dengan segera saya memanggil bidan dan langsung dipindah ke ruang persalinan. Kontraksi sudah sangat sakit dan 2 kali per 10 menit. Meski sakit tapi tetap belum boleh mengejan.

Di sinilah waktu begitu amat sangat lambat sekali banget.

“Ini jarum jamnya muter gak sih!!”, istriku sambat.

Untuk mengetahui pembukaan selanjutnya diberi jeda 4 jam, jadi dengan rasa sakit yang begitu menyiksa kami disuruh menunggu hingga pukul 05.00. Ditemani saya dan ibu di ruang persalinan, meski cukup mengantuk, saya menemani istri sambil mengusap-usap punggung. Mendekati pukul 05.00 kontraksi semakin menjadi dan saking gak kuatnya, tangan istriku memeluk ibu dan mencengkeram kencang.

Pukul 05.00 yang harusnya dicek pembukaan seperti yang dijanjikan, namun di-php dan baru dicek pukul 07.00 pagi dan dinyatakan pembukaan 6. Kami agak gimana gitu, harapannya dan harusnya kalau sesuai prediksi, pukul 07.00 itu paling tidak sudah pembukaan 8 atau lebih. Istriku sudah gak karuan.

Jam 8 pagi saya sempatkan pulang sebentar untuk mengambil stok alas persalinan yang masih ada di rumah. Naik motor terasa melayang akibat belum tidur dari minggu sampai selasa. Sampai rumah rasanya sudah sempoyongan, tapi kalau saya tidur pasti terlalu nyenyak dan lama, khawatir jika saya melewatkan kelahiran anakku.

Aku duduk sebentar dan memutuskan mandi untuk sekadar mengusir ngantuk. Selesai mandi, balik ke klinik dan mendapati istriku turun dari ranjang persalinan. Menurut keterangan bidan, disuruh jalan-jalan agar pembukaannya lebih cepat dan mandi. Dengan menahan sakitnya kontraksi, saya bantu memandikan istri dan menuntun jalan-jalam di dalam klinik.

Ketegangan dimulai…

Tibalah pukul 11.00, dicek pembukaan lagi kok tidak ada perkembangan, masih berhenti di pembukaan 6. Bidan pun akhirnya memberikan keterangan bahwa jika nanti pukul 11:30 masih tidak ada kemajuan, maka istri saya akan dirujuk ke rumah sakit untuk diberikan tindakan lanjutan sambil menyodorkan selembar surat pernyataan bersedia diinfus. Karena jika dirujuk wajib diberi infus.

“Mas, jika nanti pukul 11:30 belum ada kemajuan, kemungkinan akan kami rujuk ke rumah sakit ya, soalnya ini sudah batas waktu akhir dari penanganan kami, harusnya adeknya sudah lahir lho!”, ujar bidannya.

Mendengar itu saya mengiyakan lemas sambil mbatin.. “Nduk, apa kowe durung rampung ta sing farewell party neng njero wetenge ibuk? kok isih krasan tenan.. ewangono ibukmu, nduk!” (Nak, apa kamu belum selesai farewell party di dalam perut ibumu? kok kerasan banget, bantu ibumu, Nak!)

Pikiranku sudah mulai gak karuan, ibu sudah harap-harap cemas, apalagi istri saya pasti juga agak down. Saya bergegas ke kamar rawat inap dan mempacking semua barang bawaan untuk siap dibawa pindah.

Selesai packing saya kembali ke ruang persalinan dan mendapati muka sedih istri bikin gak tega. Salah satu bidan memutuskan untuk cek lagi. Sekadar informasi, kami ditemani sekitar 3-8 bidan dan tenaga kesehatan lainnya yang standby.

“Mas, coba lihat nih, adeknya sudah di bawah, rambutnya lho sudah kelihatan, ya kan ,mas?”, kata mbak bidan memastikan ke saya.

“Gimana mbak Rosi, kita coba lahirkan ya, ini sudah siap lahir ini”, kata bidan diikuti anggukan istriku.

Dasarnya istri saya itu nadinya kecil, nyoblos mau pasang infus hampir setengah jam dan beberapa lokasi tusukan aja tetep gak berhasil. Mungkin itu yang kuyakini sampai saat ini sebagai mukjizat Allah untuk mengulur waktu sambil anakku berusaha turun ke bawah membantu ibunya. Kalau nyoblosnya sekali berhasil, mungkin saat itu sudah diangkut ambulans untuk dirujuk.

Semakin tegang

Seketika pintu kamar persalinan ditutup, semua SDM bidan di klinik tersebut terpusat membantu persalinan istriku. Saya mendampingi di samping kepalanya sambil memberi semangat.

Istri saya mulai mengejan dan mengejan, namun hampir satu jam belum membuahkan hasil karena jalan lahir yang relatif kecil dan tenaga dorongannya kurang kuat. Sebenarnya saya sedih melihat kesulitan satu lagi yang dihadapi istri, tapi secara lahiriyah berusaha senyum sambil memberi semangat, saya gak boleh terlihat sedih agar tetap memberi energi positif ke istri dan bayiku.

“Sudah hampir sejam belum keluar juga, sekali lagi mengejan yang kuat ya mbak Rosi, kalau masih gagal nanti saya bantu untuk aksi membuka jalan lahirnya”, kata mbak Bidan.

Sebenarnya bayiku ini sudah seperempat keluar kepalanya, bathuk-nya aja sudah terlihat. Salah satu bidannya memotret kepala bayi yang sedikit keluar ditunjukkan ke istriku bahwa tinggal sedikit lagi. Ibuku yang ikut mendampingi terlihat menangis dan keluar masuk ruangan karena takut dan cemas.

Saat jeda mengejan, istriku diselingi minum sari kacang ijo, aqua, pocari sweat dan roti untuk menjaga tenaga tetap ada.

“Kress..kress..”, suara gunting membantu membuka jalan lahir. Pakai bius gak, entah. Sepertinya enggak sih, sekalian merasakan sakit kalau kata istriku yang pengalaman dalam hal keperawatan.

Akhirnya, mengejan yang terakhir dan itu yang paling kuat dari istriku, dipadu dengan bunyi kress kress lagi, kepala anakku berhasil keluar diikuti dengan keluarnya badan yang lebih mudah.

14 Februari 2017 pukul 13:07, tangisan pecah dari anakku dan tangisan yang keras di dalam ruangan dari ibuku menyemarakkan kebahagiaan. Saya sebenarnya juga aslinya pengen nangis, tapi tetep sok cool kutahan-tahan karena pekewuh sama mbak-mbak bidan yang banyak dan mengerumuni membantu kelahiran anakku. Sebuah kecupan di kening dan melihat anakku langsung berada di atas tubuh ibunya untuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sudah sebetul-betulnya ungkapan syukur.

Sekitar 15 menit kemudian saya keluar ruangan dan menemui bapak, bapak mengucapkan selamat sambil nangis, aku ikut berkaca-kaca. Alhamdulillah.

Pukul 01:45 bapak ibu mertua sudah hadir dari Bojonegoro, pukul 02:00 setelah bayi selesai dibersihkan dan ditempatkan di ruang penyinaran, disaksikan keempat orang tua, saya mengadzani anakku dan diteruskan doa dari mbah-mbahnya, sementara istriku masih 3 jam di ruang persalinan untuk membersihkan rahim dan penjahitan,

 

Membersihkan rahim ini ndak kalah sakitnya lho, gaes! Bayangkan saja, tangan orang dewasa masuk lewat jalan lahir yang habis digunting dan ngobok-obok perut.

Matur nuwun yang sangat kepada tim bidan Puri Adisty yang membantu persalinan istriku. Kurang lebih 8 tenaga kesehatan yang menemani kelahiram anakku. Sebuah kerja tim yang layak dipuji. Ntapz!

Proses persalinan yang dramatis. Padahal selama hamil, istriku hampir gak pernah merasakan keluhan yang berarti. Hanya mual biasa pas trimester awal dan waktu hormon pelunak tulang pinggul mulai bekerja keras yang membuat istriku gak bisa jalan selama seminggu pada usia kehamilan ke-37. Selebihnya sehat-sehat saja.

Selamat datang di dunia, Ayyara!