Menyoal Warung Padang

masakan padang

masakan padang

Kegundahanku dimulai ketika membaca tulisan PamanTyo yang berjudul “Warung Padang“. Dalam tulisan tersebut diceritakan tentang bagaimana sih warung padang dalam hal penyajian makanan?  Dengan percakapan ringan, Paman menyampaikan ( meski disamarkan dengan kata “mungkin” dan “barangkali” ) bahwa lauk dan Nasi di warung padang itu kalau tidak habis biasa didaur ulang. Aku pun tercengang dibuatnya.

Meski aku juga sudah lama menduga, tapi memang betul adanya bahwa lauk yang tidak habis dalam sehari itu bisa didaur ulang untuk disajikan beberapa hari ke depan dengan kemasan berbeda. Pendapat senada yang lebih menguatkan ketika mas Iman Brotoseno juga ikut berkomentar di tulisan tersebut sebagai berikut :

Ada tahapan bagaimana hidangan ayam di restorant Padang. Pertama ayam di buat jadi ayam pop. 3 hari tidak laku, lalu ayam itu diolah jadi ayam gule. 3 hari kemudian belum laku, dan diolah jadi ayam bakar. Kalau tdak laku lagi maka, ayam bakar dijadikan hidangan baru. Ayam goreng. Biasanya ini laku.

Padahal warung yang namanya biasa menggunakan kata minang dan bundo itu aku anggap sebagai alternatif ketika datang ke suatu kota yang asing yang belum pernah tau gimana model makanan di kota tersebut dan warung padang pun jadi pelarian. Bukan berarti ogah mencoba hal baru, hanya sementara untuk “cari aman” saja.

Tapi aku juga lantas merasa lega bahwa warung padang yang biasa aku jajanin itu selalu rame pembeli, sehingga aku pun agak yakin dengan makanannya yang disajikan bukan dari daur ulang. Namun juga harus hati-hati juga ke depannya kalau mau makan masakan ini. Nggak boleh di sembarang tempat.

sumber gambar: uniknyaindonesiaku.blogspot.com