Legenda Gapura Batas Kota Solo

Gapura di Jurug,Solo

Pernah lihat atau lewat gapura perbatasan Solo dengan kabupaten sebelahnya? Itu lho, yang selalu kita jumpai saat masuk wilayah kota Solo dari berbagai jalan masuk utama. Gapura berwarna putih yang berdiri kokoh di sebelah kiri-kanan (berpasangan) jalan raya.

Konon, cerita tentang gapura ini sangat menarik. Gapura Dibangun pada zaman pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X, Raja Kraton Kasunanan Surakarta. Sebagaimana kita tahu, raja yang satu ini memiliki kharisma yang tinggi dan dengan Raja PB X inilah kraton Surakarta mencapai masa kejayaan. Pada zaman inilah kraton surakarta mengalami kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan. Sebuah kerajaan yang membawahi Karesidenan Surakarta dan salatiga ini, masih meninggalkan jejak bersejarah sisa-sisa masa keemasannya. Apabila kita masuk daerah Solo, tak asing lagi di berbagai bangunan kuno yang masih kokoh berdiri pasti mempunyai logo kraton yang dilengkapi tulisan PB X. Ini adalah fakta sejarah yang bernilai tinggi dan adi luhur dibalik keunikan Solo dengan segala tradisi kulturalnya.

Gapura di Grogol

Balik lagi soal gapura, cerita dari orang-orang terdahulu. Gapura ini memiliki kekuatan mistis dimana ini sebagai benteng depan pertahanan Kraton Surakarta. Pembangunan gapura ini dilengkapi dengan upacara ritual meletakkan Lulang balondo. Lulang yang berarti kulit, dan Balondo adalah nama seekor Kerbau yang pada zaman dahulu memiliki kesaktian. Suatu saat kerbau itu mati, dan kulitnya dipotong-potong kemudian ditanam di semua gapura batas kota. Sehingga, ceritanya dahulu setiap ada musuh yang akan memasuki wilayah kerajaan dengan melewati gapura tersebut, maka semua kekuatan apapun akan lenyap ketika melewatinya. Musuh yang awalnya mempunyai kekuatan supranatural tinggi, ketika melewatinya akan menjadi sebagaimana orang biasa yang tidak mempunyai kekuatan lebih. Sehingga, ini dijadikan sebagai benteng pertahanan kerajaan.

Demikian salah satu cerita yang saya dapat dari kakek dan bapak serta orang-orang yang pernah menceritakan kepada saya. Ini bukan bermaksud untuk berlaku syirik maupun memuja benda, tetapi ini adalah legenda kerajaan yang mempunyai nilai historik dan sakral. Asalkan kita tidak beribadah atau meminta pertolongan pada gapura ini, maka semua masih biasa saja. Inilah pelajaran sejarah hari ini, besok dilanjutkan lagi, minggu depan kita kuis. Loh!!!