Matahari sudah mulai terik saat saya menuju kelurahan untuk mengurus surat pindah guna membuat kartu keluarga (KK) baru. Pengantin baru itu kudu ngurus ini-itu, alih-alih satu kota yang mudah dijangkau, Jogja-Bojonegoro itu jauh, bung! Tepat di pinggir sawah desa Bumirejo, langkahku terhenti oleh sapaan Mbah Mig. KitaIndonesia

Mbus, arep neng ndi? (Mbus, mau ke mana?)”, tanya Mbah Mig.

Badhe tindak kelurahan, Mbah, ngurus KK (Mau ke kelurahan, Mbah, ngurus KK)”, jawabku.

Di ujung timur Bojonegoro ini sedang musim kemarau. Sawah tadah hujan yang biasanya ditanami padi, kini berubah menjadi hamparan tembakau dan semangka. Saya kemudian turun ke pematang sawah dan menghampiri Mbah Mig yang sedang meneduh di gubug. Sekadar ingin ngobrol sebentar karena tahu bahwa Bu Lurah datangnya selalu siang.

Duduk beralas tikar di gubug disuguhi air kendi dan pisang rebus dari Mbah Mig, obrolan kami mulai mengalir. Mulai dari ngobrol soal sawah sampai ngalor-ngidul tanya kabar Asmirandah. Mbah Mig ini terlalu gaul untuk orang tua seusianya, di rumah tontonannya infotainment. Kemudian handphone saya berbunyi, ternyata suara Telegram dari grup sejarah yang lagi broadcast aturan grup. Mbah Mig melirik handphone saya yang layarnya 5,5 inchi.

“Mbus, HP-mu itu gede banget. Itu HP atau martabak to? Bisa buat apa saja?”, tanya Mbah Mig penasaran.

“Haha.. ini HP masa kini, Mbah. Lebih komplit bukan sekadar buat tilpun dan SMS.”, jawabku singkat.

Mbok saya yang sudah tua ini dijelasin yang rinci, Mbus. Mbah juga pengen apdet“.

“Jadi gini, mbah, sekarang ini perkembangan teknologi informasi itu cepet banget, tiap hari selalu ada saja yang baru. Dulu, orang mau berkabar harus lewat pos yang dikirim berhari-hari, lha sekarang ini tinggal ketik di HP segede martabak ini sudah sat set bat bet. Mbah, sekarang ini untuk tahu kabar presiden kita dari mulai pagi sampai sore ngapain aja bisa dibaca dengan mudah lewat aplikasi di HP ini. Kemarin itu, pak Dirjo tetangga sebelah rumah berangkat haji, sesampai di Mekah sana sudah ngirimin saya foto selfie di depan Kabah lewat handphone ini. Kondisi ini kontras banget dengan zaman dulu orang pergi haji yang bisa sampai enam bulan, berangkat dan tidak berkabar lagi sampai kembali, seperti kata almarhum Zainuddin MZ “Orang sudah lupa kita baru pulang“. Jadi perkembangan teknologi informasi itu bisa memangkas jarak dan waktu, distribusi informasi makin cepat, dan masih banyak kemudahan lainnya.“, terangku ngecuprus panjang lebar.

“Mbus, kalau begitu berarti saya bisa ya istilahnya ngangsu kawruh (belajar) tentang pertanian lewat handphone itu? Saya itu pengen sinau ilmu baru, barangkali ada cara bercocok tanam yang lebih maju atau ingin menjual hasil panen Mbah ini ke kota lain yang lebih luas. Bisa nggak, Mbus?”, tanya Mbah Mig.

Lha ya bisa banget, Mbah!”, jawabku dengan mantap. “Saya lihat di desa ini, meskipun agak pelosok namun sudah dijangkau oleh sinyal 4G yang was wus lho, Mbah. Koneksi 4G itu cara mudahnya bikin kita lebih cepat mengakses internet. Nah, jika ini bisa dimanfaatkan dengan baik, warga desa yang mayoritas petani bisa dilatih menggunakan internet dengan membuat pelatihan kecil-kecilan misalnya di Balai RW atau kelurahan. Harapannya, dengan pemanfaatan teknologi informasi di tingkat desa ini paling tidak bisa untuk menambah wawasan warga tentang pengolahan pertanian yang lebih efektif, efisien dan maju. Warga juga dimudahkan dalam mengakses informasi tentang apa saja komoditas pertanian di daerah lain secara langsung dari rumah, informasi terkini harga bahan makanan pokok, dan lain-lain. Jika warga desa Bumirejo ini sudah gathuk mathuk terampil menggunakan internet, naik tingkat lagi bagaimana caranya menjual hasil pertanian secara online yang nantinya bisa meningkatkan penjualan para petani di sini. Kalau petani bisa menjual hasil pertanian secara maksimal kan nantinya petani sejahtera. Caranya tidak sulit, Mbah, karena di internet itu mau ngapain aja bisa”.

“Cocok itu, Mbus.. Mbah jadi lumayan paham dan terbuka pikirannya. Mbah jadi pengen segera ngobrol lebih lanjut dengan warga tentang hal ini, kamu nanti malam selo, ndak? Temani mbah ngobrol dengan warga, ya!”, pinta Mbah Mig.

“Beres, Mbah.. Ba’da Isya’ nggih. Ya sudah berhubung sudah menjelang dzuhur, saya mau teruskan perjalanan dulu ke kelurahan”, saya mencoba mengakhiri obrolan.

Ya wis sana, Mbus. Keburu Bu Lurah pergi lagi. Lha wong dia itu di kantor cuman numpang absen”.

Oiya, satu pertanyaan, Mbah.. kalau boleh tahu nama panjangnya Mbah itu siapa, sih? saya ngertinya ya Mbah Mig aja dari dulu”, aku penasaran juga.

“Orang biasanya memang cuman memanggil Mbah Mig, namaku sebenarnya Migunani Tumraping Liyan. Orang tua saya pengennya Mbah itu jadi anak yang berguna bagi sesama. Biar keren kayak orang londo-londo atau orang kota ya cukup dipanggil Mbah Mig atau Mister Mig. Haha!”

Gaul tenan njenengan niku, Mbah (gaul banget Kamu itu, Mbah). Saya duluan ya, Mbah..”, saya pun pamit dan menyudahi obrolan dengan Mbah Mig.

 

#KitaIndonesia