Setiyo Mursid

Seluangnya dan seingatnya

Menu Close

Menikmati Perjalanan Senja Jogja-Solo

Suatu sore yang cerah dalam perjalananku pulang ke Solo, sebuah perjalanan wajib yang kulakukan ketika akhir pekan tiba untuk menyapa keluarga di rumah setelah 6 hari bekerja di Kota Jogja. Tumben banget aku bisa menikmati perjalanan kereta api Prambanan Express (Prameks) dengan menyenangkan. Cuacanya sore itu memang terlihat cerah. Tak setetes gerimis pun yang berani menjatuhkan diri yang biasanya datang dari langit sambil beraninya main keroyokan.

jadwal prameks

Prameks Kuning (source:semboyan35.com)

Perjalananku sebelumnyaย  tidak lantas tidak menyenangkan, tapi khusus untuk yang kali ini terasa benar perasaan yang lebih kriuk dan lebih punya taste!. Berawal dari kantor dan naik ojek menuju Stasiun Lempuyangan, sebuah pemandangan yang membuat trenyuh ketika melihat seorang nenek yang menyangga daun pisang terduduk di pinggir loket, tatapannya yang terlihat letih sambil tangannya sibuk memilah-milah kacang rebus yang kelihatannya udah mulai layu. Aku pun bergegas membelikannya sebungkus nasi, dalam hati aku mengira barangkali si Nenek belum makan dan aku pun bersyukur masih bisa diberi kemudahan makan sampai detik ini.

prameks ungu

Prameks Ungu (source:flickr.com)

FYI, KA. Prameks adalah kereta yang melayani perjalanan Solo-Jogja-Kutoarjo PP. Tiketnya pun murah, untuk sampai ke Jogja cukup Rp.9.000. KA Prameks mempunyai dibagi menjadi dua, yaitu KA Prameks yang berwarna Ungu (kereta lama) yang biasa disebut Prameks Anggur dan KA Prameks yang berwarna kuning (kereta baru). Maksudnya Kereta baru untuk di Indonesia padahal itu lungsuran dari Jepang dan digunakan di negeri itu tahun 80-an.

Singkatnya, masinis memulai perjalanan dengan nyetater prameks. Banyak orang berkata bahwa melakukan perjalanan dari Jogja ke Solo maupun sebaliknya menggunakan KA.Prameks itu layaknya perjalanan wisata. Betul, aku juga mengamininya. Perjalanan yang melintasi hamparan sawah yang luas dan pastinya tidak terhambat macet ( Yo genah lha wong ndak ada lampu bangjo! ) sampai ketika pandanganku terfokus pada sekelompok anak kecil yang bermain bola di sawah, seketika aku koq jadi teringat masa-masa aku masih kecil, saat aku masih dicari ibu bila menjelang maghrib aku belum pulang dari main. Menyenangkan sejenak merefleksikan diri melihat dan menghayati suasana pedesaan yang tenang, damai, dan jauh dari keriuhan orang-orang kapitalis yang hobi bergaya kebarat-baratan.ย  Sebuah kejenuhan stadium akhir saat kita hidup di kota dengan segala keruwetan di jalan, motor yang ugal-ugalan, gaya hidup mengumbar pupu memoles pipi, dan sederetan kegalauan yang mondar-mandir di depan kita setiap harinya.

mursid

jaman saya masih kecil (narsis yo ben)

Kadang hal-hal kecil yang kita lewati setiap hari mempunyai makna besar yang sering terlupakan. Egois, gengsi, dan perfeksionis seringย  membuat kita kehilangan identitas diri.

© 2015 Setiyo Mursid. All rights reserved.

Theme by Anders Norén.