Setiyo Mursid

seluangnya dan seingatnya, update tergantung mood.

Menu Close

Kota Solo, Kemegahan Dalam Kesederhanaan

Pasar barang antik Triwindu, Ngarsopuro, Solo. (photo: flickr/Stewart Leiwakabessy)

Pasar barang antik Triwindu, Ngarsopuro, Solo. (photo: flickr/Stewart Leiwakabessy)

Tanggal 17 Februari 1745, tepatnya 268 tahun yang lalu, sebuah peristiwa bersejarah terjadi di sebuah kota yang kini lebih sering disebut Solo. Ya, nama Solo sekarang memang lebih populer dari Surakarta, walaupun sebenarnya sama. Sri Susuhunan Paku Buwana II yang kala itu sebagai Raja, memindahkan ibukota kerajaan Mataram dari Kartasura ke Desa Sala.

Dinamakan Desa Sala karena dahulu banyak ditumbuhi pohon Sala, ada juga cerita bahwa tetua di desa tersebut bernama Ki Gedhe Sala yang jejak makamnya masih bisa dijumpai di daerah Baluwarti. Lantas dari situlah Desa Sala disulap menjadi sebuah keraton sebagai pusat pemerintahan dari kerajaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sura yang berarti tekad dan keberanian dalam menghadapi segala rintangan, Karta berarti makmur sebagai sebuah permohonan berkah kepada yang Maha Kuasa, Hadi berarti besar dan Rat adalah negara. Jadi arti dari nama Surakarta Hadiningrat adalah sebuah permohonan agar terciptanya sebuah negara yang besar dan makmur tata, titi, tentrem, karta raharja.

Dalam usia yang telah mencapai 268 tahun ini, Kota Solo dan masyarakatnya telah melewati berbagai peristiwa sejarah yang menggembleng, mendewasakan, dan membentuk karakter sebagai Wong Solo atau Priyayi Sala. Baik dari masa penjajahan, upaya mempertahankan kemerdekaan, mendukung pergerakan nasional, masa reformasi sampai masa pemerintahan duo maut Jokowi-Rudy (sekarang tinggal Pak Rudy).

Solo telah banyak berubah, tapi selalu teraba benang merahnya, ungkapan: Solo, ya tetep Solo. Kita bisa datang dan pergi ke Solo, tapi kita tak pernah bisa meninggalkannya. — Kitab Solo.

Pembangunan Kota Solo dari masa ke masa

Sebagaimana ditulis di dalam Kitab Solo yang disusun oleh Arswendo Atmowiloto, dikatakan bahwa “di Solo, setiap batu punya cerita. Atau bahkan setitik debu, bisa menjadi cerita yang seru, lucu, haru, mungkin agak-agak tabu. “. Sebuah ungkapan yang menurut saya tidak berlebihan, mengingat jika kita mengenang kembali kisah sejarah Kota Solo, di mana pada masa Sinuwun Paku Buwana X dan KGPAA Mangkunegara VII, pembangunan di Kota Solo sungguh pesat.

Saya begitu antusias mendalami kisah sejarah dua penguasa Solo tersebut. Paku Buwana X sering disebut Kaisar Jawa karena wibawanya yang begitu besar di mata rakyatnya sampai ke seluruh Jawa, ada pula yang menyebutnya sebagai Sunan Panutup, sebab sebagian kawula-nya percaya bahwa Sinuwun Paku Buwana X adalah raja penutup dalam silsilah kerajaan Kasunanan Surakarta, meski pun setelahnya masih ada raja Paku Buwana XI sampai Paku Buwana XIII. KGPAA Mangkunegara VII juga tak kalah hebat, beliau adalah sosok yang berbudi luhur dan berwawasan modern yang berhasil mengawinkan kebudayaan Jawa dengan kebudayaan Barat dengan cara yang luwes.

Dua pemimpin tersebut melakukan persaingan sehat yang menjadikan Kota Solo berkembang pesat dalam hal pembangunan. Paku Buwana X yang kala itu membangun Taman Sriwedari untuk tempat hiburan rakyat, maka Mangkunegara VII pun membangun Taman Tirtonadi, Taman Minapadi, dan Taman Balekambang. Pun demikian ketika Stasiun Purwosari dibangun Mangkunegaran, maka Kasunanan juga membangun Stasiun Jebres, dan seterusnya.

Paku Buwana X membangun Stadion Sriwedari yang mana saat itu adalah stadion pribumi pertama yang dibangun di Indonesia dan berstandar internasional pada zamannya. Stadion Sriwedari yang kini disebut Stadion R.Maladi, adalah saksi sejarah diselenggarakannya Pekan Olahraga Nasional (PON) untuk pertama kalinya. Sebagai pelengkap untuk menyiarkan pertandingan yang dihelat di Stadion Sriwedari, Sinuwun juga mendirikan Siaran Radio Indonesia (SRI) pada tahun 1934.  Mangkunegaran juga merintis siaran radio bernama “Javaansche Kunstkring Mardi Raras Mangkunegaran” yang kemudian menjadi Solosche Radio Vereeniging (SRV) tahun 1933, SRV ini adalah cikal bakal berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI).

Solo masa depan adalah Solo masa lalu

Suasana kawasan Pasar Gedhe Solo menyambut tahun baru Imlek. Meriah!

Suasana kawasan Pasar Gedhe Solo menyambut tahun baru Imlek. Meriah!

Berbagai langkah besar yang diambil oleh pasangan pemimpin Kota Solo yaitu Jokowi dan Rudy sungguh menggembirakan. Mengusung semangat Solo past is Solo future, mereka telah berhasil menyulap Kota Budaya ini sedemikian rupa menjadi benar-benar rapi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di Solo. Kota ini sekarang telah kembali populer, seperti sedang dalam puncak keemasan, setidaknya dalam hal pembangunan dan pelestarian budaya. Acara berstandar internasional yang bernuansa seni budaya, performing arts, karnaval, dan lainnya juga aktif diselenggarakan tiap tahun yang tersusun rapi dalam Calender of Cultural Event Solo.

Tak perlu saya menuliskan panjang lebar tentang apa saja yang telah dilakukan Jokowi-Rudy, sebab selain sudah banyak yang menuliskannya, saya memilih lebih bersemangat dalam upaya untuk menjaga apa yang sudah tercapai. Tidak perlu yang muluk-muluk, dimulai dari hal yang sepele saja, misalnya ketika sedang menyaksikan karnaval jangan menginjak dan merusak taman di sepanjang jalan yang dilalui, tak perlu terlalu kreatif dengan mencoret-coret tembok, apalagi yang terdaftar sebagai Benda Cagar Budaya (BCB), setau saya di Purwosari itu ada media tembok untuk menuangkan kreativitas. Tidak lupa mari kita dukung program Dishubkominfo Solo tahun 2013 ini tentang kesadaran berlalu lintas. Seiring dengan slogan yang kian gencar digemborkan “Tertib berlalu lintas, cermin budaya Wong Solo”.

Akhirnya, saya mengucapkan Selamat Hari Jadi ke-268 Kota Solo. Semoga kamu tetap menjadi kota yang ramah untuk dikunjungi, murah untuk disinggahi, dan meriah untuk dinikmati. Solo, The Spirit of Java. #268Solo

Referensi:

  • Atmowiloto, Arswendo. 2008. Kitab Solo. Pemerintah Kota Surakarta: Surakarta.
  • Santosa, Iwan. 2011. Legiun Mangkunegaran (1808-1942). Kompas Media Nusantara: Jakarta.
  • Cuplikan twitter @blusukansolo dan @tentangSolo
  • Cerita lisan dari berbagai sumber.

© 2017 Setiyo Mursid. All rights reserved.

Theme by Anders Norén.

Kota Solo, Kemegahan Dalam Kesederhanaan

by Setiyo Mursid time to read: 3 min
10