Antara Solo, Sala, dan Surakarta

The Capital of Batik

The Capital of Batik

Solo yang mana sebuah kota dimana aku biasa menghabiskan waktu tiap hari untuk berguru dari SMP sampai universitas. Walaupun saya bertempat tinggal di Sukoharjo. Namun, waktuku di rumah hanya seperempat dari 24 jam. Selebihnya aku melanglang Solo.

Sebutan Kota Solo dan Kota Surakarta itu saya bingung membedakannya. Saya tidak tahu pasti perbedaannya. Dalam hal pemerintahan misalnya, saya melihat ada tulisan di kop surat maupun di papan nama lembaga bertuliskan “Pemerintah Kota Surakarta“. Tapi kok setelah disingkat penggunaan katanya mayoritas lebih sering menjadi “Pemkot Solo“?. Sebuah permainan kata yang benar-benar memancing naluri keingintahuan saya.

Yak, yang saya tahu kata Surakarta itu dulu adalah sebutan untuk Karesidenan Surakarta yang meliputi Solo, Sukoharjo, Klatem, Karanganyar, Boyolali, Sragen, dan Wonogiri. Kemudian dengar cerita dari seorang teman bahwa sekarang berhubung karesidenan Surakarta itu sudah tidak ada, maka nama “Surakarta” itu ya Kota Surakarta itu sendiri. Entahlah saya juga tidak tahu soal hal ini. Sampai sekarang belum menemui jawaban yang pasti.

Nah, sekarang bagaimana dengan kata “Solo” itu sendiri? Solo yang juga disebut Surakarta itu sendiri telah membuat sebuah brand “Solo The Spirit of Java“. Apabila kita melewati di jalan-jalan utama Kota Solo ini banyak kita jumpai tulisan bernuansa wisata dan budaya dengan memakai kata “Solo“. Kata Solo di sini lebih populer dan lebih easy listen di telinga masyarakat.

kraton kasunanan surakarta

kraton kasunanan surakarta

Terus bagaimana dengan Kraton Surakarta Hadiningrat? Konon cerita bahwa Kraton Surakarta ini adalah perpecahan dari Kerajaan Mataram yang dibagi dua, yakni Kraton Yogyakarta dan Kraton Surakarta. Dan Kraton Surakarta ini dibangun di atas sebuah desa yang dulu berbentuk sebuah rawa yang bernama Desa Sala. Nah loe! ada satu kata lagi yang menambah kemajemukan makna dan sebutan untuk sebuah kota kecil dengan nuansa budaya yang tinggi ini. Kata “Sala” pun dalam beberapa sebutan masih digunakan untuk menyebut kota ini. Misalnya dalam kebanyakan tulisan berbahasa Jawa mayoritas masih menulis dengan sebutan “Sala“. Saya juga menemui contoh di pagar SMP negeri 6 Surakarta juga bertuliskan SMPN 6 SALA.

foto:putadaerah.wordpress.com

foto:putadaerah.wordpress.com

Semakin dalam kita menggali apa saja yang tersirat di balik kota yang penuh dengan kegiatan budaya ini, maka semakin kita merasakan sebuah kehidupan dalam budaya jawa yang sebenar-benarnya dengan menjungjung tinggi adat dan nilai ketimuran, keluhuran, dan budi pekerti.